Marawis Assyifa

Kesenian merupakan salah satu unsur dari suatu kebudayaan dan unsur tersebut harus terus dipelihara keberadaan serta konsistensi dari bentuk kesenian tersebut, dari awal mula kesenian tersebut lahir, berkembang di masyarakat sekitarnya, berubahnya peran, fungsi dan bentuk penyajian yang diakibatkan perkembangan zaman, sampai bagaimana kesenian tersebut mampu bertahan sebagai bentuk kebudayaan yang layak dilestarikan. Indonesia dikenal sebagai tempat yang memiliki berbagai macam kebudayaan dan suku bangsa, baik itu berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
Bentuk-bentuk kesenian itu merupakan sebuah bentuk asli, lalu menjadi tradisi ataupun merupakan hasil campuran dengan budaya luar yang dapat menghasilkan nuansa dan semangat baru atas suatu bentuk kesenian di suatu daerah dan hal tersebut membuat bertambahnya para peminat dan pelaku seni yang orang-orangnya berasal dari masyarakat penikmat kesenian tersebut juga. Jawa Barat merupakan salah satu propinsi di pulau Jawa yang memiliki banyak bentuk kesenian, bentuk keseniannya ada yang berasal dari kesenian tradisi Jawa Barat dan ada juga yang berasal dari luar seperti kesenian Islami.
Rata-rata kesenian Islami di Jawa Barat berasal dari negara-negara di timur tengah. Kesenian Islami mayoritas berbentuk qasidah, nasyid, dan salah satunya adalah musik MARAWIS. Musik marawis adalah suatu bentuk kesenian yang telah dikenal lama hidup dan dikenal oleh masyarakat Jawa Barat baik dari kalangan para santri
di pesantren maupun masyarakat secara umum. Jenis musik ini berasal dari tradisi agama Islam yang secara umum disebut marawis.
Mengapa dinamakan Marawis ?... karena salah satu nama jenis alat yang digunakan dalam pertunjukan tersebut adalah Marawis, jadilah nama untuk jenis musik dan tarian tersebut dikenal di masyarakat dengan nama marawis.
Marawis masuk dan lalu menyebar di Indonesia melalui jalur perdagangan yang dimana di dalamnya terjadi interaksi sosial antara masyarakat pribumi dalam kasus ini masyarakat Indonesia dengan para pedagang dari negara timur tengah yang
mayoritas pada waktu itu terdiri dari para ulama. Tujuan mereka selain berdagang adalah berdakwah, menyebarkan ajaran Islam melalui berbagai cara dan salah satu cara yang digunakan adalah media seni musik marawis. Bahkan cara ini pun digunakan oleh para Wali Songo sebagai alat bantu syiar agama Islam di pulau Jawa.